Rabu, April 18, 2012

Madre: Adonan Cerpen Bertaburan Filosofi


Judul Buku          : Madre
Penulis                  : Dee/Dewi Lestari
Penerbit                : Bentang Pustaka
Cetakan                 : II, Agustus 2011
Halaman               : 162 Halaman

Madre: Adonan Cerpen Bertaburan Filosofi
Oleh: Nurul Fauziah*

            Andrea Hirata dalam novel fenomenalnya ‘Laskar Pelangi’ menuliskan tentang filosofi pencarian. Pencarian akan hal-hal yang paling kita inginkan dalam hidup ini dan pencarian akan diri kita sendiri. Karena jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apapun keadaannya.
            Dee atau yang lebih dikenal sebagai Dewi Lestari, mantan personil grup vocal RSD, Rida, Sita, Dewi, yang sekarang lebih fokus ke karir barunya sebagai penulis, novelis, dan cerpenis. Tak banyak selebriti yang mampu bertahan lama di dalam dunia tulis menulis, berbeda dengan Dee. Dee, selebritis multitalent, nyanyi Ok, menulis Jagonya, tapi belum saya lihat aksi Dee dalam dunia perfilman.
Kembali ke karya Dee, dalam kata pengantarnya Dee menuliskan sebagaimana lazimnya awal dari sebuah karya kreatif, Dee kerap memulai proses berkarya dengan bertanya. Tidak dipungkiri bertanya adalah mencari jawaban, kembali ke konsep filsafat pencarian tadi. Descrates pernah bilang bahwa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang lebih berguna lagi, kecuali mencari satu kali, dengan tekun, terus menerus. Inilah yang dilakukan seorang Dee dalam tiap karyanya.



Ide Sederhana, Dikemas Elegan
            Bukanlah hal mudah mengemas ide sederhana menjadi sebuah karya yang elegan, tapi disanalah letak tantangan menjadi seorang pengarang yang karyanya membuat pembacanya susah lupa, bahkan melekat di hati, memuaskan dahaga jiwa yang gersang kerontang akibat laju tuntutan hidup.
            Sejenak membaca Madre, kita akan memasuki bekas sebuah toko roti tua tanpa plang di daerah Jakarta tua. Dari sinilah bermula kisah seorang pria keturunan India bernama Tansen Roy Wuisan yang hidup bebas di Bali sebagai freelancer yang tiba-tiba mendapat warisan dari seorang pria tua berdarah Tionghoa bernama Tan Sin Gie. Cerita pun berlanjut membawa pembaca menelusuri jejak pencarian silsilah keluarga Tansen yang sebenarnya. Hingga Tansen dalam keterkejutannya, sebagai seorang blogger, menuliskan di blog-nya. “Apa rasanya sejarah hidup kita berubah dalam sehari? Darah saya mendadak seperempat Tionghoa, nenek saya ternyata tukang roti, dan dia bersama kakek yang tidak saya kenal, mewariskan anggota keluarga yang tidak pernah saya tahu: Madre”. (hlm. 18). Setelah membaca Madre, tukang roti yang lewat ingin segera memborong semua roti-rotinya.
Madre adalah buku yang menyajikan kumpulan cerpen, puisi, serta prosa pendek karya Dewi Lestari. Ini adalah buku ketujuhnya setelah trilogi Supernova, Filosofi Kopi, Recto Verso, dan Perahu kertas.           
Terdiri dari 13 karya fiksi dan prosa pendek. Ulenan adonan kisahnya menyajikan berbagai tema: perjuangan sebuah toko roti kuno pada judul Madre,  tentang seorang laki-laki yang mencari jawaban atas sebuah tanya yang ia tidak tahu pasti, tema ini terdapat pada cerpen Have You Ever, yang saya membacanya cukup mengkerutkan kening supaya mengerti, maksud Dee menulis cerpen ini apa, selain itu juga ada cerpen berjudul Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan, di cerpen ini lagi-lagi Dee piawai sekali dalam menarik sebuah perenungan dari semangkuk acar hingga pembaca dibawa menelusuri makna pencarian akan cinta dan Tuhan hanya dari semangkuk acar. Kok bisa? Bahkan Dee juga menyisipkan tema reinkarnasi dan kemerdekaan sejati. Silahkan menikmati cerpen dan prosa dari seorang Dee!

*Resensor adalah mahasiswa IAIN SU dan bergiat di FLP Sumut

#Tulisan ini telah dimuat di Harian Medan Bisnis 25 Maret 2012


0 komentar: